Translate

Sabtu, 12 Juli 2008

8 kebohongan ibu

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Tempayan retak

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"

"Selama dua tahun ini, saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Kisah tentang pelaut

Ada satu kisah tentang seorang pelaut.
Selain menjadi pelaut yang ulung, dia adalah seorang yang taat dan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap pelayarannya.
Dalam setiap pelayaran ada berbagai masalah yang dia alami, mulai dari menghadapi ombak yang besar, hujan badai, bajak laut, serangan binatang-binatang laut dan lain-lain, dia selalu berhasil mengatasinya.
Meski begitu dia tak sombong, karena dia berfikir itu semua adalah pertolongan dari Tuhan.

Suatu ketika dalam pelayarannya yang ke sekian, sebuah ombak besar dan hujan badai membuat kapalnya jadi terombang-ambing dan kehilangan arah sehingga menabrak sebuah batu karang yang besar.
Tak ayal lagi kapalnya menjadi pecah berantakan, dan pelaut ini terlempar keluar dari kapalnya yang telah rusak.

Berbekal kepandaiannya dalam berenang, dia coba bertahan dan terus berenang untuk mencari tepian laut.
Entah berapa lama dia berenang sampai akhirnya dia kelelahan dan berhenti untuk berenang.
Dengan bersandar pada sebongkah kayu yang mengapung dilautan dia terdiam dan berdoa kepada Tuhan agar datang dan memberi pertolongan kepadanya.

Tak berapa lama sebuah kapal pencari ikan datang menghampiri dia, salah satu awak menghampiri dia, "Tuan ambillah pelampung ini, naiklah ke kapal kami!", teriak salah satu awak kapal itu. "Tidak, terimakasih. Tuhan akan datang menolongku." jawab sang pelaut. Dengan keheranan Kapal pencari ikan itu pergi.

Sepergi Kapal pencari ikan itu, datanglah sebuah kapal patroli menghampiri sang pelaut dan menawarkan pertolongan. "Tidak, terimakasih. Tuhan akan datang menolongku." jawab sang pelaut. Dengan keheranan pula kapal patroli itu pergi.

Tak berapa lama, datanglah kawan sang pelaut yang sama-sama pelaut dan telah mencarinya karena lama tak berjumpa. "kawan, naiklah ke kapalku!" pinta temannya sambil mengulurkan tangannya. "Tidak, terimakasih. Tuhan akan datang menolongku." jawab sang pelaut. Dengan keheranan dan kecewa kawan pelaut ini pergi.

Tidak berhenti disini, masih ada kapal-kapa lain yg datang dan menawarkan pertolongan, namun selalu dijawab dengan jawaban yang sama.

Waktu berlalu, karena kelelahan terapung dan badannya menjadi lemah, sang pelaut ini tak bisa menahan badannya lagi dan jatuh tenggelam ke dalam lautan akhirnya meninggal dunia.

Di alam lain, disuatu kesempatan sang pelaut bisa bertatap muka secara langsung dengan Tuhan, dia bertanya kepada Tuhan. "Tuhan Engkau baik kepadaku dan aku selalu berdoa kepada-Mu, tetapi ketika sebelum aku meninggal karena tenggelam, kenapa Engkau tidak datang menolongku?"

Dan Tuhan menjawab, " Anakku aku telah mengirimkan kapal pencari ikan, kapal patroli, bahkan kawanmu sendiri dan kapal-kapal yang lain dengan harapan engkau mau menaiki kapal itu untuk selamat, tetapi engkau tidak melakukannya."

Moral;
Terkadang kita tidak peka terhadap pertolongan yang Tuhan ingin berikan dan tertutup dengan cara pemikiran kita sendiri, sehingga membawa ke kecelakaan diri sendiri.

Semoga kisah diatas juga memberikan inspirasi untuk menjadi lebih baik

Samuel Mulia....

Samuel Mulia - Penulis Mode dan Gaya Hidup

Perancang mode terkenal Perancis, Yves Saint Laurent, tutup usia hari Minggu lalu. Salah satu perancang mode yang saya sukai. Kesukaan yang tak akan pernah hilang meski rumah mode atas namanya kini punya napas baru yang jauh dari apa yang dibuatnya dahulu. Kualitas yang berbeda, pendekatan yang berbeda.

Meninggal atau mangkat atau wafat atau game over bukan masalah. Masalahnya bagaimana proses menuju jalan akhir itu. Minggu lalu saya menulis betapa nelongso-nya SK Trimurti, saya kini lebih nelongso lagi membaca bagaimana perancang legendaris ini meninggal.

Begini ucapannya di Detikcom yang saya baca. ”Saya mengenal ketakutan dan kesendirian. Obat-obatan dan teman palsu itu. Penjara depresi dan rumah sakit. Saya berhasil keluar dari itu semua, silau tetapi sadar.”

Kalau minggu lalu jantung saya nyaris berhenti mendengar nelongso-nya Bu Trimurti, maka membaca kalimat itu tidak hanya membuat jantung saya ”benar berhenti”, tetapi berdiam lama, lama sekali. Mencoba mengerti apa yang dirasakan pria berusia 71 tahun ini menjelang ajalnya.

Rahasia umur panjang

Teman palsu. Saya tak mengerti apa yang dimaksud Monsieur Saint Laurent tentang itu. Saya pikir ia tak lagi mengartikan teman palsu dengan obat-obatan yang benar-benar mampu memalsukan hidupnya. Karena kalimatnya adalah obat-obatan dan teman palsu itu. Jadi, ada dua hal. Ini dan itu. Dan yang membuat saya berhenti lama, lama sekali, bukan kesepian yang dia rasakan, tetapi sebuah suara bertanya dari dalam hati, teman palsukah saya?

Perancang yang senantiasa bersetelan dan berdasi hitam ini nelongso karena teman palsunya. Kepalsuan yang membuatnya depresi, kemudian mematikan. Kepalsuan yang seperti racun di cerita Agatha Christie. Saya mencoba berandai-andai. Kalau saja ia ditemani manusia yang tidak palsu, mungkin paling tidak ia bisa memperpanjang usianya. Karena teman yang semacam itu memang membahagiakan, menyegarkan jiwa, sebuah sandaran yang tak akan membuatnya hanya melayang sejenak.

Jadi, sekarang saya baru menyadari rahasia panjang usia. Bukan hanya karena anugerah Tuhan semata, bukan hanya gara-gara mengatur makanan empat sehat lima sempurna, dan bukan juga karena memiliki materi bernama helikopter pribadi yang bisa membawa Anda dari rumah mewah di luar Jakarta untuk makan pagi di hotel berbintang di tengah Jakarta. Tetapi, memperpanjang usia bisa ditentukan dengan memiliki teman-teman yang tidak palsu. Yang bisa—meski tak selalu—menemani seseorang dalam kondisi apa pun. Di atas gunung atau di bawah kolong jembatan.

Palsu. Sebuah kondisi yang tidak asli, yang tidak genuine. Jadi, kalau teman palsu adalah teman yang tidak asli, yang tidak genuine. Yang pura-pura. Pura-pura genuine. Seperti barang bermerek palsu. Kualitas yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Kualitas yang kelihatannya bagus di luar, tetapi ketika waktu berjalan akan kelihatan keaslian sesungguhnya.

Dalam keterdiaman yang lama, nurani saya yang banyak bacot itu berbunyi lagi. ”Ayo ngaku, jij teman palsu apa enggak? Lo teman kualitas KW1 atau asli?”

Maka setelah terdiam dan terusik oleh nurani sendiri, saya memang harus jujur mengatakan, saya ini memang seperti barang merek palsu, terutama dalam pergaulan.

Saya ingin punya banyak jaringan pertemanan dan bisnis, maka saya menempel kepada beberapa sosok socialite, beberapa pejabat atau anak pejabat yang bisa mengantar saya ke tempat yang saya inginkan. Kalau disuruh menemani belanja di Hongkong saya tak bakal menolak, dikasih Blackberry apalagi. Saya tak keberatan menjadi kacung papan atas. Tetapi, ketika si socialite sedang tertimpa musibah, pejabat menjadi bangkrut, anak pejabat dipenjara karena kasus narkoba, maka saya tak akan lagi pernah menghubungi.

Mungkin, awalnya saya masih mau setor muka, lama- kelamaan saya setor muka di tempat lain. Seperti barang palsu. Awalnya memukau, kemudian luntur karena tak berkualitas. Saya bukan butuh teman, saya butuh muka. Jadi, begitu muka yang saya harapkan rusak, maka saya mencari yang lain. Socialite baru, pejabat baru dan anak pejabat baru.

Kalau nasi jadi bubur

Saya membayangkan Yves Saint Laurent. Sosok yang pernah begitu penting di dunia mode, yang keterkenalannya sejagat raya, yang teman-temannya bernama kondang dan superkondang. Mungkin ia kecewa karena teman-temannya yang ia pikir benar-benar genuine ternyata tak bedanya seperti mereka yang memalsukan kreasinya. Ia silau dan tak sadar.

Mungkin juga, ia merasa tersisih setelah rumah mode atas namanya pun bukan menjadi miliknya. Teman bisnis di kala senang tak lagi berpihak kepadanya. Maka, ketika ia sudah kesepian, ia baru tahu teman yang sesungguhnya dan yang palsu. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Ia sadar meski sekarang ia silau. Kalaupun ia kini kecewa karenanya, itu bisa jadi—ini cuma asumsi saya—ia pun tidak berhati-hati selama tinggal di bawah lampu yang berkilat, yang menyilaukan, yang tak mampu membuatnya sadar sepenuhnya sehingga ia sampai tak tahu palsu dari tidak palsu.

Kalau saja Yves bisa melihat di dalam tidurnya di peti mati, teman-teman palsunya yang seperti saya ini, bisa jadi hadir di pemakaman dengan air mata buaya mereka. Saya bisa jadi datang karena saya ingin orang tahu saya mengenal sosok kondang ini. Apalagi kalau pemakaman itu diabadikan di majalah-majalah internasional. Siapa tahu saya bisa diabadikan di dalam majalah, seperti Elton John di pemakaman Gianni Versace.

Teman palsu seperti saya ini bahkan bisa memanfaatkan hari-hari dukacita itu sebagai medium untuk menjadi kondang. Saya tak pernah mau merawat yang sakit karena momen penuh pengorbanan itu tak akan pernah diabadikan di majalah mode dan gaya hidup. Teman palsu seperti saya maunya cuma senang-senang. Saya tak pernah berpikir—mungkin tepatnya tak peduli—kepalsuan saya sebagai teman bisa menghantar orang kehabisan napas, meredup, dan kemudian padam.

Kilas Parodi: Kalau…

1. Ada teman Anda yang ayahnya pernah menjadi anggota PKI dan kemudian diampuni pemerintah, masihkah Anda mau bergaul dengan keluarga dan anaknya itu seperti Anda mau berteman dengan anak konglomerat yang koruptor?

2. Ada pilihan dan hanya boleh memilih satu. Kalau pada hari, tanggal, dan jam yang sama Anda memiliki undangan pernikahan mewah anak konglomerat yang didemo dan teman biasa bukan konglomerat, tetapi lumayan kaya, yang berdukacita karena anaknya meninggal, Anda memilih hadir di mana? Catatan: di pesta perkimpoian ada kemungkinan Anda bisa difoto bersama para jetsetter dan ada kemungkinan diabadikan di majalah mode dan gaya hidup. Sementara di tempat dukacita, Anda tak mungkin diabadikan, tetapi bisa mendapat bahan gunjingan untuk siap diedarkan sepulang dari rumah duka sebab anak teman Anda meninggal karena sesuatu hal yang memalukan.

3. Kondisinya: yang menikah dan yang meninggal anak konglomerat dan kondang, yang mana prioritas utama Anda?

4. Waktu Anda menentukan prioritas, apakah itu terjadi spontan atau Anda memikirkan dahulu penting atau tidak pentingnya kehadiran Anda di salah satu tempat itu untuk masa depan Anda?

5. Anda bekerja sebagai kuli tinta mode, apakah Anda akan hadir dengan penuh semangat di peragaan busana desainer superkondang atau yang biasa-biasa saja?

6. Ada seseorang bertanya kepada Anda, mengapa Anda melakukan perbedaan? Mengapa susah sekali menjadi teman dalam segala cuaca? Apakah kira-kira jawaban Anda? Kalau saya jujur, capai ngurusin orang lagi kesusahan. (Samuel Mulia)

Kepompong dan Kupu Kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

ibu yang cacat mata

Ibuku hanya memiliki satu mata, sedang mata yang satunya cacat. Aku membencinya… dia sungguh membuatku menjadi sangat memalukan. Dia bekerja memasak buat para murid dan guru di sekolah… untuk menopang keluarga.

Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk di sekolah dasar dan ibuku datang. Aku sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia tega melakukan ini padaku? Aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengannya.

Keesokan harinya di sekolah…
“Ibumu bermata satu?!?!?…. eeeee ejek seorang teman. Akupun berharap ibuku segera lenyap dari muka bumi ini.

Jadi kemudian aku katakan pada ibuku, “Ma… kenapa engkau hanya memiliki satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang , kenapa engkau tidak segera mati saja?!!!??

Ibuku diam tak bereaksi. Aku merasa tidak enak, namun disaat yang sama, aku rasa aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini…
Mungkin ini karena ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berfikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu…Aku terjaga dan bangun menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Ibuku sedang menangis disana terisak-isak, mungkin karena khawatir akan membangunkanku. Sesaat kutatap ia, dan kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah aku mengatakan perasaanku sebelumnya padanya, aku merasa tidak enak dan tertekan. Walau demikian, aku benci ibuku yang menangis dengan satu mata.

Jadi aku bertekad untuk menjadi dewasa dan menjadi orang sukses . Kemudian aku tekun belajar. Aku tinggalkan ibuku dan melanjutkan studiku ke Singapore. Kemudian aku menikah. Aku membeli rumahku dengan jerih payahku. Kemudian, akupun mendapatkan anak-anak, juga.

Sekarang aku tinggal dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku melupakan ibuku.

Namun pada suatu hari, ada seseorang tamu mengetuk pintu rumahku. Setelah kubuka, aku sangat terkejut sekali. Ini adalah ibuku… Masih dengan mata satunya. Aku merasa seolah-olah langit runtuh menimpaku.

Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.
Aku bertanya padanya, “Siapa kamu?!. Aku tidak mengenalmu!!!?? kukatakan seolah-olah itu benar.

Aku memakinya, “Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku! KELUAR DARI SINI!! SEKARANG JUGA!!!??.

Ibuku hanya menjawab, “Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat.? Kemudian ia berlalu dan hilang dari pandanganku.
Oh syukurlah… Dia tidak mengenaliku. Aku agak lega. Kukatakan pada diriku kalau aku tidak akan khawatir, atau akan memikirkannya lagi. Dan akupun menjadi merasa lebih lega…

Suatu hari, sebuah undangan menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku di Singapore. Jadi, aku berbohong pada istriku bahwa aku akan melakukan perjalanan dinas. Setelah menghadiri reuni sekolah, aku mengunjungi sebuah gubuk tua, dulu merupakan rumahku… Hanya sekedar ingin tahu saja.
Di sana , aku mendapati ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tapi aku tidak melihatnya mengeluarkan air mata.

Ia memegang selembar surat ditangannya… Sebuah surat untukku.

“Anakku…Aku rasa hidupku cukup sudah kini… Dan… aku tidak akan pergi ke Singapore lagi…Tapi apakah ini terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-kali?

Aku sungguh sangat merindukanmu…Dan aku sangat gembira ketika kudengar bahwa engkau datang pada reuni sekolah .

Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolahan. Demi engkau …Dan aku sangat menyesal karna aku hanya memiliki satu mata, dan aku telah sangat memalukan dirimu.

Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan, dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu mata.

Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu…
Aku sangat bangga akan dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut.

Aku tidak pernah merasa marah dengan apa yang kau pernah kau lakukan… Beberapa kali engkau memarahiku…
Aku berkata pada diriku, ‘Ini karena ia mencintaiku …’

Pesan (di atas) ini sungguh memiliki sebuah arti yang sangat mendalam dan dikirim untuk mengingatkan banyak orang bahwa kebaikan yang telah mereka nikmati selama ini adalah berkat seseorang, entah secara langsung maupun tidak langsung.
Renungkan sesaat dan lihatlah dirimu!.

Berterima kasihlah akan apa yang kamu miliki saat ini dibandingkan dengan jutaan orang yang tidak memiliki kehidupan seperti yang engkau peroleh saat ini !
“Bawalah (selalu) ibumu dalam doa di mana saja engkau berada !

kenyataan yang mengharukan

Jika anak ini bisa membantu,
mengapa "kita yang lebih baik" tidak?

Ia berjalan di depan meja 'donation', kami berpikir: 'dia akan lewat...'



"Saya ingin menyumbang!"
Ia menuang koin dari mangkuknya.
Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu,
tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.

Kami semua tak bisa berkata-kata,
ia memberikan semua yang diperolehnya
kepada Lembaga Amal dengan usahanya sendiri.


"Saya masih punya uang."
Ia berkata dengan antusias sambil merogoh saku celananya.


Ia mengambil beberapa lembar uang 10 dollar
dan ... menyumbang!



Orang Bijak Mengatakan, " Sesungguhnya jika kita berbuat kebaikan,
Kita BUKAN hanya sedang membantu orang atau mahkluk lain,
Namun sesungguhnya kita sedang membantu diri kita sendiri agar menjadi lebih bahagia.
Temukan kebahagiaan dengan memberi "